Data & Teknologi
TOON vs JSON: Format Data Mana yang Lebih Efektif di Era AI?

Kalau kamu sering bekerja dengan API atau sistem berbasis AI, kemungkinan besar kamu sudah akrab dengan JSON. Format ini sudah menjadi tulang punggung pertukaran data digital selama lebih dari dua dekade. Tapi ada format baru yang mulai menarik perhatian serius: TOON, atau Token-Oriented Object Notation.
TOON bukan sekadar alternatif. Ia dirancang dari awal untuk menjawab kebutuhan spesifik era AI: efisiensi token.
Apa Itu TOON?
TOON adalah format serialisasi data berbasis teks yang dirancang khusus untuk dikirim ke Large Language Models (LLM) sebagai input. Diluncurkan pada November 2025, TOON menggabungkan struktur berbasis indentasi ala YAML untuk objek bersarang, dengan tata letak yang memiliki style ala CSV untuk array yang seragam.
Hasilnya adalah format yang jauh lebih padat dibandingkan JSON, tanpa mengorbankan kemampuan mesin untuk membacanya. Sebagai gambaran real-nya: data yang sama dalam JSON membutuhkan 15.145 token, sementara dalam TOON hanya butuh 8.745 token. Ada 42,3% penghematan yang terjadi hanya dari perubahan format.
Kenapa Ini Penting?
Mungkin terdengar seperti optimasi kecil saja, tapi coba pikirkan skala besarnya.
Setiap hari, miliaran permintaan dikirim ke sistem AI di seluruh dunia. Setiap token yang terbuang bukan hanya soal biaya API, tapi juga soal kecepatan pemrosesan, kapasitas konteks, dan konsumsi energi. Jika sebagian besar data yang dikirim ke AI bisa dihemat hanya dengan mengubah format, dampaknya terhadap infrastruktur komputasi global cukup signifikan. Bukan hanya optimasi kecil, tapi ini efisiensi sistemik.
Angka Real-nya
Dalam beberapa pengujian pada berbagai LLM, TOON mencapai akurasi 73,9% dibandingkan JSON yang hanya 69,7%, sambil menggunakan 39,6% lebih sedikit token. Artinya, TOON bukan hanya lebih hemat, tapi juga lebih akurat.
Ini menarik karena format yang lebih ringkas justru membantu model lebih mudah memahami struktur data yang dikirim.
Contoh Penggunaan Nyata
TOON paling efektif untuk data tabular dan array objek yang seragam. Berikut beberapa contoh konkret:
- Katalog produk e-commerce: Mengirim ribuan SKU produk ke AI untuk analisis atau rekomendasi. Dengan JSON, setiap produk mengulang nama field berkali-kali. Dengan TOON, nama field hanya ditulis sekali di header, mirip CSV tapi dengan tipe data yang jelas.
- Daftar pengguna untuk segmentasi: Agen AI yang menganalisis perilaku ribuan pengguna bisa menerima data TOON jauh lebih efisien, memungkinkan lebih banyak data masuk ke dalam satu konteks.
- Log transaksi keuangan: Data log berulang dengan struktur seragam adalah kandidat terbaik. Ribuan entri dengan field yang sama bisa dikompresi secara dramatis.
- Pipeline laporan otomatis: Sistem yang rutin mengirim data ke AI untuk dirangkum atau dianalisis bisa menghemat biaya API secara signifikan dengan beralih ke TOON.
Tantangan yang Perlu Diperhatikan
Adopsi tidak akan semulus kelihatannya. Ada beberapa tantangan nyata yang perlu dihadapi.
Pertama, setup awal yang lebih teliti. Berbeda dengan JSON yang bisa langsung ditulis manual, TOON memerlukan pemahaman struktur data sebelum encoding. Schema-awareness yang menjadi keunggulan TOON juga berarti ada kurva belajar di awal.
Kedua, standar administrasi yang masih longgar. Karena format ini masih relatif baru, belum ada standar yang benar-benar matang. Ini berpotensi menciptakan inkonsistensi antar implementasi, dan dalam konteks tertentu bisa membuka celah keamanan jika parsing tidak dilakukan dengan ketat. Tantangan ini kemungkinan besar akan teratasi seiring maturitas ekosistem.
Ketiga, dan ini mungkin yang paling besar: AI perlu dikonfigurasi untuk memahami TOON. Model yang digunakan perlu mengetahui format apa yang dikirim, bagaimana cara memparsingnya, dan seberapa cepat proses tersebut. Tanpa konfigurasi yang tepat, keunggulan efisiensi TOON tidak akan terealisasi, bahkan bisa memperburuk hasil.
Keempat, ekosistem yang masih berkembang. Library untuk Python dan JavaScript sudah tersedia, tapi untuk bahasa lain seperti Go, Rust, dan .NET masih dalam tahap pengembangan. Integrasi ke stack teknologi tertentu masih membutuhkan pekerjaan ekstra.
Kapan TOON Tepat, Kapan Belum?
TOON paling cocok untuk: komunikasi antar agen AI dengan data tabular seragam, pipeline data volume tinggi ke LLM, sistem yang biaya token-nya signifikan, serta analitik dan pelaporan otomatis berbasis AI.
TOON belum cocok untuk: struktur data yang sangat bersarang dan tidak seragam, web API publik yang membutuhkan kompatibilitas universal, tim yang belum siap investasi waktu untuk setup awal, atau kasus di mana keterbacaan manusia adalah prioritas utama.
Catatan Penutup
JSON tidak akan kemana-mana dalam waktu dekat. Ia sudah terlalu dalam tertanam di infrastruktur digital global, dari REST API hingga konfigurasi aplikasi. Dan untuk banyak kasus, JSON masih pilihan yang tepat.
Tapi di sisi AI, ceritanya berbeda. Seiring AI semakin masif digunakan, setiap keputusan arsitektur data akan berdampak pada efisiensi dan biaya secara kumulatif. TOON menawarkan pendekatan yang masuk akal: gunakan JSON untuk komunikasi antar sistem secara umum, tapi encoding dengan TOON saat data tersebut hendak dikirim ke model AI.
Ini bukan revolusi. Ini evolusi yang wajar. Dan bagi siapa pun yang bekerja di persimpangan data dan AI, TOON adalah format yang layak diperhatikan sekarang, sebelum menjadi standar baru yang semua orang tergesa-gesa adopsi.
Referensi
- TOON vs JSON: A Modern Data Format Showdown - DEV Community
- JSON vs TOON: Choosing the Right Data Format for LLM - IBM Community
- toon-format/toon: Spesifikasi resmi, benchmark, dan TypeScript SDK - GitHub
- What Is TOON: the Compact Data Format for LLMs and AI - OpenAPI
- TOON vs JSON: The Future of Efficient Data Exchange for LLMs? - APIDog
- What is TOON? How Token-Oriented Object Notation Could Change How AI Sees Data - freeCodeCamp
- TOON: Save 60% on Tokens, A New File Format for the AI Age - Analytics Vidhya